|
There are no translations available.
Pameran - Diskusi – Workshop Fotografi
« Dari Sejarah, untuk Sejarah »
karya komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Malang
8 – 17 April 2010 Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL), jl. Darmokali 10 Surabaya
Pembukaan & Diskusi bersama Ray Bahtiar: Kamis, 8 April 2010, pk. 18.30 di CCCL Workshop kamera Lubang Jarum: Jumat & Sabtu, 9 & 10 April di CCCL
Peninggalan sejarah berupa candi-candi di Malang dan sekitarnya seperti Badut, Kidal, Singosari, Jawi, Jago dan Sumber Awan diabadikan oleh sekelompok anak muda pecinta kamera lubang jarum yang tergabung dalam komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia (KLJI) – Malang. Melihat karya-karya mereka, kita menguak dunia lampau melalui mata yang seakan terdistorsi karena keunikan hasil gambar dari kamera yang dapat kita buat sendiri ini. Mengandalkan cahaya alami, terekamlah kekuatan gambar hitam putih di dalam kamera sederhana nan unik. CCCL pun memberikan kesempatan bagi publik Surabaya dan sekitarnya untuk menyaksikan karya KLJI Malang bertema “Dari Sejarah untuk Sejarah”, bekerjasama dengan Komunitas Lubang Jarum Indonesia dan Insomnium. Pameran foto ini berlangsung mulai 8 – 17 April 2010 di Galeri CCCL. Pada malam pembukaan acara, akan digelar diskusi bersama Ray Bahtiar, pelopor kamera lubang jarum di Indonesia dan pendiri komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia pada tahun 2002.
Di samping itu, publik juga berkesempatan untuk mengikuti workshop pada 9 dan 10 April di CCCL (Untuk pendaftaran, silakan hubungi langsung panitia : Decky (081 555 711 011). Tempat terbatas). Dalam workshop, peserta akan diberi materi cara membuat kamera lubang jarum dan praktek pengambilan gambar, hingga mencetaknya. Hasil karya peserta workshop ini nantinya turut dipamerkan di CCCL. Terdapat dua belas peserta pameran foto ini : Yolanda Ayu M., Syarifuddin Siswanto (Wawan), Prima Satya N., rahmat basuki, Fiarfan, Dwi Noor (Dimas), agata Pritasari, Fitra Ardiansyah, Didik “Jefri” Hermanto, Mokhammad Rifay, Arif Yudhi S. dan Nur Hasan.
Tujuan diadakannya pameran ini adalah upaya mengabadikan peninggalan sejarah oleh generasi muda ini agar diminati dan menular kepada mereka yang berada di kota-kota lainnya. Harapannya agar terkumpul dukungan berbagai kalangan hingga kegiatan ini berkembang, baik dari sisi pelestarian peralatan kamera yang tidak menggunakan teknologi digital dan tentunya dari sisi pelestarian budaya, agar masyarakat Indonesia semakin mengetahui dan mencintai peninggalan budayanya sendiri.
Karya pameran “Dari Sejarah untuk Sejarah” telah dipamerkan di Galeri Ken Arok – Perpustakaan Pusat Kota Malang pada 8 – 12 Januari 2010.
KLJI Malang Diperkenalkan di Malang oleh Ray Bahtiar Drajat pada Juli 2002 tepatnya pada workshop fotografi yang digelar pada 16-22 juli 2002 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Malang merupakan kota ke-4 setelah Jakarta, Bandung, Jogjakarta yang merupakan bagian dari roadshow Ray Bahtiar memperkenalkan fotografi kamera lubang jarum di Indonesia. Workshop pertama ini sekaligus merupakan tonggak berdirinya komunitas Kamera Lubang jarum Indonesia – Malang. Kamera lubang jarum (KLJ) diperkenalkan di berbagai kalangan, seperti pada Pendidikan dan Penlatihan (Diklat) dasar foto di UKM Focus – UMM, sebagai materi dasar fotografi di UKM fotografi di kampus ITN Malang, UIN malang dsb. Materi KLJ juga diperkenalkan di komunitas foto luar kampus juga di sejumah SMA dan SMP, juga kepada masyarakat pada pelatihan oleh mahasiswa KKN di Malang.
Kamera Lubang Jarum Di Indonesia, kamera lubang jarum dipelopori oleh Ray Bachtiar pada 2002, dan dia jugalah yang mendirikan Komunitas Lubang Jarum Indonesia. Di mancanegara, terdapat banyak komunitas pecinta kamera lubang jarum yang lebih dikenal dengan pinholic camera.Kamera ini bukanlah alat yang sempurna dengan teknik yang terukur, namun mampu mengajak kita ke dimensi lain, ruang yang lebih luas pada olah pikir yang menguji kepekaan kita, dengan mengandalkan kemampuan fisik kita. Ia membawa kita pada seni dan pendidikan seni. Kamera lubang jarum saat ini tak dapat dipisahkan dari sejarah fotografi di Indonesia, yang mana ia menjadi dasar pengajaran di Institut Seni Indonesia di Jogjakarta, yang melahirkan instruktur-instruktur tangguh dan banyak pengikut.
|